Tampilkan postingan dengan label Lembur Salawe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lembur Salawe. Tampilkan semua postingan

Tradisi Adat dan Budaya Tahunan MISALIN 2015. part .1








Misalin adalah sebuah tradisi adat budaya tahunan yang selalu di peringati oleh masyrakat '' Kampung Salawe'' bila akan menyambut bulan suci Romadhon lokasinya Di Situs Sanghiyang Cipta Permana Prabu Digaluh Salawe berada di Dusun Tunggalrahayu Desa Cimaragas Kecamatan Cimaragas Kab. Ciamis.tradisi ini sudah  turun temurun yg sudah hampir ratusan tahun di laksanakan.sampai sekarang. .


JURU KUNCI SITUS PRABU DIGALUH SALAWE

                                                             PHOTO JURU KUNCI
                                                       ABAH LATIF DAN ISWANTO

Sejarah Singkat

 Salah satu situs unggulan di Kabupaten Ciamis yaitu situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe, di Dusun Tinggarahayu, Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.
Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe merupakan tinggalan Situs yang di dalmnya adanya bcb batu entog , batu lambang peribadatan, patilasan Prabu Galuh Salawe, dan sebagainya.
Prabu Salawe sekitar tahun 30 an ternyata telah dikunjungi oleh Bapak Proklamator Presiden pertama RI Ir. Soekarno, beliau berkunjung ke situs Prabu Galuh di Salawe ketika masih menjadi mahasiswa ITB Bandung. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya
data-data kliping koran yang masih tersimpan sampai sekarang di Jupel Salawe Abah latif Adiwijaya.
Kemudian pada tahun 2013 setelah melalui seleksi yang ketat dari The soekarno Center yang berpusat di Tampaksiring Bali, Situs Prabu Galuh di Salawe mendapatkan sertifikat The Soekarno Center yang akan diberikan penganugrahan pada tanggal 20 Nopember 2013 di Balai Kota Bandung oleh Ketua The Soekarno Center Ibu Sukmawati Soekarno Puteri.

sumber: Eman Hermansyah Sastrapraja/PANGAUBAN GALUH PAKUAN
Lembur Salawe Hanya Dihuni 25 Kepala Keluarga

Lembur Salawe Hanya Dihuni 25 Kepala Keluarga

NURHANDOKO WIYOSO/"PRLM"
Juru pelihara situs cagar budaya Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabu Galuh Salawe Iswanto Tirtawijaya dan Jagabaya Tanto Herdianto berdiri di pintu gerbang masuk Lembur Salawe, di Dusun Tunggarahayu, Desa/kecamatan Cimaragas, kabupaten Ciamis. sejak dulu hingga saat ini di tempat tersebut hanya dihuni 25 tugu atau kepala keluarga.*
CIAMIS, (PRLM).- Dari sekian banyak tempat di Tatar Galuh, ada satu wilayah yang sejak jaman dulu hingga saat ini masih kental dengan tradisinya yakni Lembur Salawe. Terletak di Dusun Tunggarahayu, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis. Sesuai namanya, di wilayah yang lokasinya tidak jauh dari aliran Sungai Citanduy itu hanya dihuni 25 tugu atau kepala keluarga.
Lokasi tersebut berada di sisi jalur alternatif Ciamis - Kota Banjar, lewat Kkecamatan Cimaragas. Berjarak sekitar 400 meter dari Situs Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabudigaluh Slawe. Situs yang juga menyimpan sebanyak 25 petilasan itu cukup asri karena banyak terdapat pohon besar.
"Sejak jaman nenek moyang sampai sekarang di lembur Salawe hanya dihuni 25 tugu atau kepala rumah tangga. Jumlah rumah juga hanya 25, akan tetapi sekarang sudah bertambah," tutur Juru Pelihara Situs Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabudigaluh Salawe, Iswanto Tirtawijaya (25).
Didampingi Jagabaya Tanto Herdianto (34), saat ditemui di Pos Kamling masuk Lembur Salawe, dia mengungkapkan, apabila ada keturunan tugu hendak membangun rumah baru, maka harus di luar lembur Salawe.
"Pada intinya jumlah tugu tidak pernah kurang atau bertambah, tetap 25," katanya.
Seiring dengan perkembangan jaman, lanjutnya rumah tradisional yang sebelumnya berupa rumah panggung, saat ini sudah banyak yang diganti dengan rumah semi permanen. Meskipun demikian, tutur Iswanto, banyak warga yang kembali menginginkan membangun rumah tradisional.
"Tidak hanya bentuk rumah panggung, beberapa bagian ruangan dalam rumah juga ada bagian-bagiannya. Misalnya kamar, dapur, tempat menimpan hasil panen dan lainnya," jelasnya.
Kedua pemuda yang mengenakan pakaian pangsi dengan iket di kepalanya, menambahkan perkembangan jaman tidak mengurangi atau melunturkan warga Salawe mempertahankan tradisi. Misalnya Masalain atau Ngikis yang digelar menjelang bulan puasa.
Sebelum panen, warga juga melakukan ritus berdoa agar hasil panen mendatang melimpah serta bebas dari serangan hama.
"Sampai sekarang tradisi Masalin dan ritus menjelang panen masih kami pertahankan. Banyak nilai yang terkandung dalam keguatan tersebut, tidak hanya yang tersurat atau yang tampak saja, akan tetapi juga makna yang tersirat," katanya.
Keduanya juga mengaku minimnya perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis terhadap keberadaan Lembur Salawe.Ppadahal, lembur Salawe berikut situs yang ada di tempat tersebut merupakan kekayaan budaya nasional. 

sumber : PR